Bahasa, perilaku

MUSUH BESAR

Ratusan tahun yang lalu ketika Rasulullah SAW usai memimpin pertempuran dahsyat melawan kaum yang menolak kebenaran (kafir), ditengah sorak sorai kemenangan seluruh umat Islam pada saat itu, teriakan takbir gilang gemilang membahana diseantero jazirah Arab, belia naik ke atas batu kemudian meminta semua pejuang untuk tenang. Kemudian dalam kesenyapan yang merata beliau bersabda; “Wahai saudaraku, kita baru saja menyelesaikan perang yang begitu dahsyat, ratusan sudah sahid, luka-luka demi menegakan kalimatullah. Perlu kalian ketahui bahwa setelah perang ini akan ada perang yang lebih dahsyat lagi dihadapan kita.” Belum lagi Rasulullah menyelesaikan orasinya, sambutan membahana menyambut pernyataan beliau. “Perang apa lagi ya Rosul, mana yang lebih dahsyat lagi, kami tidak akan pernah mundur barang sejengkal pun!”, Allahu Akbar!, Allahhu Akbar!. Rasulullah begitu terharu melihat umatnya yang tetap tegar menegakan iman dalam hati mereka. Mati bukanlah kekalahan melainkan jalan cepat menuju tempat indah yang dijanjikan Allah Swt. Syahid!, Syahid! (awas jangan kebawa emosi dulu!). Kemudian, Rasulullah melanjutkan disambut dengan keheningan yang begitu penuh menanti apa yang akan muncul dari mulut suci sang Nabi. ” saudaraku, benar, musuh besar dan terbesar kita segera akan menghadang, dan ini paling sulit untuk ditaklukan.” Umat Islam, para sahabat menunggu Penjahat mana, atau bahkan kafir bangkotan mana yang masih memiliki nyali bertatapan wajah dengan para mujahid yang dikawal ribuan malaikat dan lindungan Allah Swt. “MUSUH TERBESAR KITA ADALAH HAWA NAFSU KITA SENDIRI…”. Suasana hening seketika, menangislah para sahabat, lunglai para pejuang mendengar hal ini…Ya Allah, berapa ribu pun musuh akan kami hadapi dengan gagah berani, kami sangat merelakan nyawa kami untuk Engkau, tapi kami belum tentu sanggup menaklukan diri kami ya Allah…Rasul pun menangis…khawatir …semua kemenangan, keimanan akan lebur hanya dengan terpelesetnya jiwa kita karena alotnya godaan jiwa sendiri…

APakah kita sudah mengalahkan jiwa dan raga kita untuk Allah Swt???

 

Renungkanlah…

 

grilledbread

Iklan
Standar
Bahasa, perilaku

Kesimpulan

Awas, hati-hatilah ketika anda membuat kesimpulan. Membuat kesimpulan sepintas lalu seperti sebuah frase yang mudah untuk dipahami dan dilakukan padahal, sebelum seseorang mengambil kesimpulan dibelakangnya terdapat serangkaian proses panjang dan berliku yang harus dilakukan dengan serius dan sebenarnya guna mendapatkan hasil akhir yang benar, terukur dan dapat dibuktikan kebenarannya.

Ketika anda melihat seseorang dengan penampilan yang agak  berbeda dari umumnya, tentunya anda bisa terjebak dalam mengambil keputusan dengan sangat cepat. Memang, kita harus berlatih membuat kesimpulan dan mengambil keputusan dengan cepat, hingga etiap persoalan tidak bertumpuk dan dapat diapusakan dalam boxfile kepala kita dan setiap orang disekitar kita.

Berikut, adalah cerita fiktif yang penulis sadur dari cerita seseorang (penulis lupa namanya, semoga amal kebaikan yang membuat cerita ini dibalas oleh Tuhan YME). Ceritanya adalah…Pada suatu ketika, adalah seorang profesor yang sudah sangat tua atau katagori B (BANGKOTAN), disela-sela riset besarnya dia berjalan-jalan di sebuah kolam yang lumayan besar di sekitar lab yang dia miliki, sambil menghilangkan kepenatan. Ketika dia berjalan, dia melihat seekor katak yang sangat besar, hampir sebesar kepala bayi yang baru lahir sekitar 3 hari. Sang profesor berupaya menangkap katak tersebut, dan hasilnya…dengan perhitungannya yang luarbiasa, katak tersebut dapat ditangkap dengan mudah. Kemudian ia bawa ke lab.

Pada malam harinya, ketika semua suasana hening, sang profesor memasuki lab untuk melanjutkan berbagai uji coba. Tetapi, ketika ia melihat katak yang dia simpan dalam aquarium besar, timbulah keinginan untuk meneliti katak tersebut. Maka dikeluarkanlah katak tersebut dan diletakan di atas hamparan papan panjang berukuran 10 meter. Setelah ia membuat angka-angka ukuran disepanjang papan tersebut, ia menempatkan katak besar itu di titik start. Kemudian, ia berteriak skeras-kerasnya, LOMPAT!, katak itu spontas lompat, mungkin kaget. dan hasilnya ia catat. “…ternyata katak besar dengan kaki sempurna mampu melompat 10 m. Ia begitu bersemangat. Tapi ia berfikir, bagaiman kalau ia potong kakinya satu. dan ia lakukan. Kemudian ia meletakan katak besar itu dititik start, dan…”LOMPAT!”, katak dengan kaki tiga itu pun melompat. Hasil jelas menurun. Ia mencatat bahwa, “katak besar dengan  tiga kaki sanggup melompat sejauh 8 m. Diluar dugaan, ia memotong kaki katak beasr itu satu lagi, jadi kini tinggal 2 kaki. dan lakukan perintah seperti sebelumnya. Ternyata katak itu hanya mampu melompat sejauh 4 m. Penurunan yang sangat drastis. Semakin penasaran ia melanjutkan penelitian yang aneh itu. Bahkan ia memotong semua kaki katak besar itu. kemudian ia letakan di garis awal dan berteriak seperti semula. Namun, kini katak tanpa kaki itu tidak berkutik. Hanya matanya yang berkedip penuh harap campur dendam pada sanga profesor. Melihat katak tidak berkutik, sang profesor semakin keras berteriak.LOMPAT, LOMPAT KAMU, LOMPAAAT!. Katak itu pun tetap diam. Dengan kesal profesor itu mengambil bukunya dan menulis kesimplan terakhir. “TERNYATA KATAK BESAR BILA DIPOTONG KAKI KEEMPAT-EMPATNYA, IA MENJADI TULI”. Lalu ia pergi ke sofa dan duduk dengan lesu, diam dan tidur.

Dari anekdot di atas, sebenarnya tidak sedikit diantara kita yang melakukan proses berfikir malapraktek dalam menafsirkan sesuatu atau seseorang yang menurut ia benar tanpa diuji berulang-ulang dengan cara-cara yang benar, penuh pembuktian, serta bermanfaat dan tidak mengandung unsur merugikan orang lain.  Hati-hatilah dengan istilah ANALISIS, PERCOBAAN, UJI COBA, ATAU PRASANGKA !

Langkah yang menurut penulis baik dilakukan sebelum mengambil kesimpulan adalah:

1. Tentukan masalah yang akan diproses; saring, bandingkan, prioritaskan, tentukan jenis atau hal apa yang akan kita munculkan.

2. Lakukan pengamatan, percobaan dan uji coba secara berulang-ulang hingga mendapatkan pembuktian-pembuktian sehingga validitas kebenarannya diakui. Ingat diakui tidak harus diikuti.

3. Ambil kesimpulan berdasarkan proses nomor dua, dan beritakan dengan sebenarnya tanpa ada perubahan yang disebabkan tekanan atau pesanan dari pihak manapun.

4. lakukan evaluasi antara kesipulan dengan input data awal dan lakukan proses nomor dua lanjutan.

Selamat mencoba. Untuk Profesor tadi. DON’T TRY THIS AT ANYWHERE!

Standar
lain lubuk, perilaku, teanga kerja, wanita

Kisah Tak Berujung

TKI-TKW, KISAH TAK BERUJUNG

Oleh   : Ade Bachtiar  

  1. Fenomena Yang Kelam

 Belum kering genangan darah penderitaan di Indonesia dengan segudang pertikaian, bertambah basahnya oleh penderitaan yang dialami para tenaga kerja Indonesia di luar negeri sebagai akibat dari kesemerawutan pengelolaan dan komitmen hukum di negeri ini. Lebih dari 60 % tenaga kerja Indonesia yang berada di mancanegara mengalami perlakuan yang tidak baik dari para majikan mereka; pemukulan, penyiksaan, pelecehan seksual hingga pemerkosaan, penghinaan hingga berujung kepada kematian. Kematian yang ada umumnya melalui proses kondisi fisik yang menurun drastis karena seringnya penyiksaan dan  bunuh diri karena sudah tidak tahan lagi serta kehilangan harapan untuk selamat hingga mengambil keputusan untuk mengakhiri hidup.  Di penghujung Juni 2007, seorang TKW bernama Ceryati, asal Brebes, Jawa Tengah itu, nekat kabur dari apartemen majikannya yang berada di lantai 15. Dia turun meluncur dari Apartemen Tamarind Sentul, Kuala Lumpur, Malaysia melalui tali yang merupakan sambungan dari kain termasuk celana dalam dan BH, Minggu, 17 Juni 20071.

Hingga terlupakannya berita ini oleh setiap ingatan manusia yang menyimak sekian banyak tragedi luluh lantaknya nasib para buruh migran termasuk Ceryati, tidak ada satupun yang menunjukan penyelesaian produktif yang signifikan yang berorientasi pada sebuah jaminan untuk tidak terulangnya peristiwa-peristiwa ini, paling tidak ada harapan berkurangnya tingkat kejahatan di dunia perburuhan ini. Kelamnya kabut persoalan di dunia pekerja migran ini hingga kini masih belum tersingkap. 

  1. Salah Siapa?

 Inilah kesimpulan jawaban dari setiap peristiwa terkaparnya para pekerja migran, yakni dengan sistem tunjuk hidung, sembari  mencari-cari salah siapa?, dan kepada siapa mencari biaya penggantian biaya luka dan tewasnya para TKI itu, hingga lambat laun semua mata melupakan peristiwa itu dengan gumam klasik yah sudahlah… Perjalanan panjang yang membuahkan lahirnya  Tenaga Kerja Indonesia bermuara dari semakin meningkatnya keinginan dan kebutuhan manusia, serta semakin menyempitnya peluang yang tersedia di negeri sendiri hingga menimbulkan tingkat kemiskinan terus melanda seolah tidak akan pernah berhenti. Jauh sebelum adanya undang-undang nomor 39 tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri2, kegiatan pencarian pekerjaan kemanca negara sudah ada dan deras mengalir. Ini tercipta atas kehendak pihak-pihak yang terdiri dari para buruh, para majikan dan agen pekerja pada saat itu yang bergerak di luar pengawasan pemerintah. Walhasil, tindakan yang merendahkan martabat manusia  ikut berkembang. Dengan demikian, pemerintah mengeluarkan Undang-Undang ini dengan harapan hilangnya kegiatan pengrusakan martabat manusia oleh segelintir manusia yang peradabannya agak terlambat.  

Pasal demi pasal mengamanatkan semua hal yang sangat baik dalam rangka menertibkan semua proses pengelolaan tenaga kerja Indonesia di luar negeri. Seperti Pasal 3:

 Penempatan dan perlindungan calon TKI/TKI  bertujuan untuk: a.     memberdayakan dan mendayagunakan tenaga kerja secara optimal dan manusiawi;b.     menjamin dan melindungi  calon TKI/TKI sejak di dalam negeri, di negara tujuan, sampai kembali ke tempat asal di Indonesia; c.     meningkatkan kesejahteraan TKI dan keluarganya. Kemudian, pada Pasal 5 a.     Pemerintah bertugas mengatur, membina, melaksanakan, dan mengawasi penyelenggaraan penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri.b.     Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1),Pemerintah dapat melimpahkan sebagian wewenangnya dan/atau tugas perbantuan kepada pemerintah daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan.Kemudian, pada Pasal 8Setiap calon TKI/TKI mempunyai hak dan kesempatan yang sama untuk: a.     bekerja di luar negeri;b.     memperoleh informasi yang benar mengenai pasar kerja luar negeri dan prosedur penempatan TKI di luar negeri;c.     memperoleh pelayanan dan perlakuan yang sama dalam penempatan di luar negeri;d.     memperoleh kebebasan menganut agama dan keyakinannya serta kesempatan untuk menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan keyakinan yang dianutnya;e.     memperoleh upah sesuai dengan standar upah yang berlaku di negara tujuan;f.      memperoleh hak, kesempatan, dan perlakuan yang sama yang diperoleh tenaga kerja asing lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan di negara tujuan;g.     memperoleh jaminan perlindungan hukum sesuai dengan peraturan perundang-undangan atas tindakan yang dapat merendahkan harkat dan martabatnya serta pelanggaran atas hak-hak yang ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan selama penempatan di luar negeri;h.     memperoleh jaminan perlindungan keselamatan dan keamanan kepulangan TKI ke tempat asal; i.      memperoleh naskah perjanjian kerja yang asli. Kemudian Pasal 31            Kegiatan pra penempatan TKI di luar negeri meliputi:a.    pengurusan SIP;b.    perekrutan dan seleksi;c.    pendidikan dan pelatihan kerja;d.    pemeriksaan kesehatan dan psikologi;e.    pengurusan dokumen;f.     uji  kompetensi;g.    pembekalan akhir pemberangkatan (PAP); danh.    pemberangkatan. 

Pada Pasal 41 dan 42

 

(1)  Calon TKI wajib memiliki sertifikat kompetensi kerja sesuai denganpersyaratan jabatan. (2)Dalam hal TKI belum memiliki kompetensi kerja sebagaimana    dimaksud pada ayat (1),  pelaksana penempatan TKI swasta wajib melakukan pendidikan dan pelatihan sesuai dengan pekerjaan yang akan dilakukan. 

dan pasal 42

 (1) Calon TKI berhak mendapat pendidikan dan pelatihan kerja sesuai dengan pekerjaan yang akan dilakukan.  (2) Pendidikan dan pelatihan kerja bagi calon TKI sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dimaksudkan untuk: a. membekali, meningkatkan, dan mengembangkan kompetensikerja calon TKI;b.  memberi pengetahuan dan pemahaman tentang situasi, kondisi, adat istiadat, budaya, agama, dan risiko bekerja di luar negeri; c.  membekali kemampuan berkomunikasi dalam bahasa negara tujuan; dand.  memberi pengetahuan dan pemahaman tentang hak dan kewajiban calon TKI/TKI.           dan seterusnya, semuanya tertuang lengkap dalam Undang-Undang ini. Dari beberapa yang dikemukakan menunjukan betapa ironisnya ketika ada seorang pekerja migan yang disiksa majikan hanya karena tidak mengerti menggunakan microwave atau tidak mampu memahami intruksi majikan dengan menggunakan bahasa Inggris sederhana. Kemudian, betapa mengherankan bila ketika ada peristiwa menyedihkan menimpa para TKW, seolah pemerintah tidak mampu berbuat apa-apa. Tentunya dengan adanya undang-undang ini ketiga serangkai yang terdiri dari ekerja, majikan dan agen akan lebih lengkap dan terjamin dengan hadirnya pemerintah yang mengawal dengan berbekal Undang-Undang ini atau peraturan tambahan lainnya.           Jika tidak, siapa yang memulai bermain kucing-kucingan hingga  kucingnya tidak pernah ditemukan sedangkan korban terus bergelimpangan? 

  1. Dari Mana Kita Memulai?

Untuk bergerak lebih cepat dalam mencapai mutu pengelolaan tenaga kerja Indonesia di luar negeri dengan benar dan aman, tentunya tidak ada cara lain selain harus mulai bergerak sekarang, dari setiap elemen yang berperan serta segera menyadari kebiadaban yang selama ini langsung atau tidak langsung dilakukan dan pegang komitmen yang berlandaskan rasa persaudaraan dan kemanusiaan serta Undang-Undang , terutama yang mengatur tata cara pelaksanaan ini.

 Adapun elemen yang secara langsung terlibat adalah Pemerintah, agen, pekerja dan majikan di kedua belah pihak yang akan melakukan kerjasama bisnis yang didasari kesepaatan kerjasama dua atau lebih negara. Pemerintah bersama masyarakat dalam hal ini sebagai pelindung dan pengawas harus lebih berbenah dan terus meningkatkan kemampuan dalam pengawasan, pengarahan serta perlindungan/jaminan pada terciptanya proses kegiatan ini. Pemerintah selayaknya jangan memulai mengajarkan hal-hal yang melanggar Undang-Undang, berantas semua kuman/oknum yang rajin berlatih kebiadaban hingga menjadi mahir sehingga membuka peluang bagi elemen lainnya untuk berbuat yang sama hingga saling menzalimi. Bekukan semua agen yang tidak memenuhi syarat dalam pelaksanaan pekerjaan ini. Begitu pun bagi agen agar memulai dan terus membenahi diri, pahami dan laksanakan undang-undang. Lakukan semua syarat yang harus dipenuhi. Perbaiki manajemen perusahaan anda, rekrut orang-orang handal yang sanggup melatih dengan benar dan cepat. Persiapkan calon TKI sebaik mungkin dan bila tidak layak jangan pernah dikirim, sarankan kepada mereka untuk belajar lagi atau mencari pekerjaan di negeri sendiri. Dan, bagi para calon pekerja migran, jangan salah tafsir mengenai berani matinya para pahlawan yang mendahului kita. Mereka mati dengan semua hal yang sudah maksimal bukan nekat  tanpa alasan dan tanpa persiapan. Persiapkan bekal yang cukup baik fisik, mental, spiritual, kemampuan.Kata Orang Jakarta bilang, “Emang lo siape?, lo kire negara laen butuh elo?’ 

  1. Penutup

Uang memang luar biasa, maka waspadalah dalam mendapatkannya. Jika anda mendapatkannya dengan genangan darah, konsekwensinya anda akan menjadi bagian basahnya hingga anda repot mengeringkannya.


1 Dian Auliya, Syariah Publication

2 Depnakertrans

Standar
perilaku, Tak Berkategori

Misteri Seorang anak

Anak sebuah kata yang sangat mudah untuk diingat dan mungkin dilupakan oleh setiap orang yang menyebutnya. Setiap orang pasti memiliki penilaian dan sikap yang harus diambil untuk mahluk yang bernama anak ini. Bahkan banyak para ahli yang membuat banyak teori tentang anak.

Bagaimana dengan anda?, pernahkah anda memikirkan apa dan mengapa anak?. pernahkah anda mendengar atau membaca ungkapan seorang ahli pendidikan yang mengatakan bahwa “Jika anakmu yang kini sudah dewasa dapat kembali menjadi anak-anak, maka kamu akan berupaya mati-matian untuk mendewasakan anak itu sebenarnya?. Maka, apakah kita hanya membesarkan anak atau membesarkan dan mendewasakannya?

Kemudian, mengenai fenomena “menelantarkan anak”, jika kita perhatikan ternyata memiliki banyak bentuk yang dapat kita temukan di berbagai lingkungan, dimulai dari rumah, di sekolah, dan di masyarakat. Dari rumah, kita bisa perhatikan berapa banyak anak yang sedang menanti begitu lama hadirnya sebuah perhatian yang hakiki dari orang tua’ ayah, ibu atau orang yang diangap mampu membeikan kasih sayang, pendidikan. Mereka, hampir setiap saat dibesarkan dengan hadiah, uang, peralatan elektronik yang secara total diberikan tanpa ada alasan maupun arahan untuk apa itu diberikan. Ketika seorang anak minta digendong ayahnya berkata, “awas, ayah masih capek, sana main game…!”. Padahal, mereka sudah main “games” dari pagihari hingga pulang sekolah.

Pernahkah anda menyimak tayangan film yang cukup menggugah tentang sebuah pemeliharaan berjudul “Danny the Dog”?. Film ini menunjukan situasi dan kondisi pemeliharaan dengan media yang berbeda. Tetapi, jika kita perhatikan adakah kesamaan pola pendidikan kita dengan bentuk pemeliharaan anak dalam film itu?

Anak dilahirkan dengan media jasmani dan rohani yang harus kita isi, maka…..

Standar
perilaku

Penulisan Nama

Menulis nama pada lembar pekerjaan sepintas seperti pekerjaan SEPELE, ternyata sulit juga bagi para siswa untuk mendisiplinkan diri dalam penulisan nama masing-masing pada lembar kerja.

Dari setiap PR yang mampir ke meja guru, dipastikan selalu ada satu atau dua siswa yang LUPA NAMANYA, sehingga ia tidak dapat menuliskannya pada lembar kerja.

Padahal, nama merupakan identitas yang menunjukan siapa kita. tanpa nama orang lain sulit mengenali siapa kita. Bahkan, bapak dan ibu guru akan kesulitan untuk menentukan siapa pemiliki pekerjaan yang nilainya bagus ini!

Nah, untuk para siswa, coba ingat dengan seksama, siapa nama kalian. Dan, jangan lupa tulis di pojok kanan atas setiap lembar kerja yang kalian terima. Pasti kamu akan dikenali. JIka lupa lagi, kalian akan dikenal sebagai siswa tak bernama atau mungkin Mr. atau MRS. PELUPA…

Standar