akal, Bahasa, hati, perasaan

“Ketika Akal Tak Kuasa Lagi, Gunakan Hatimu…”

Akal yang merupakan anugerah terindah, tertinggi dan terhebat bagi manusia, pembeda antara kita dengan hewan, sebuah alat yang difungsikan untuk berfikir; mengamati, mengolah data, menyimpan data dan lain-lain tak terhingga manfaatnya, benar-benar harus kita syukuri kepemilikan ini.

Di dalam diri kita terdapat tiga serangkai yang saling bekerjasama, yaitu akal, hati dan fisik.  Akal sebagai pusat logika sifatnya pasti dan kadang kaku tapi obyektif. Hati sebagai pusat nurani, rasa, terkadang ada keraguan , labil dan subyektif. sedangkan fisik merupakan wadah, alat untuk mewujudkan semua hasil kerjasama akal dan hati. fisik merupakan bagian terdepan yang menjadi representasi dari diri kita.

Ketiga piranti dalam diri kita ini sangat dianjurkan untuk berjalan satu kata untuk tujuan keselarasan diri. Namun demikian, persoalannya adalah, kadang ketiganya tidak seimbang. Penyebabnya banyak, bisa karena kurangnya pembekalan akal, atau juga kurangnya pembekalan hati, mungkin juga kurangnya pembekalan fisik. Apabila suatu saat terjadi kerusakan karena kelalaian salah satudari ketiganya maka akan terjadi ketidakseimbangan diri. Kekuatan utama kendali biasanya akal dan hati. Keduanya berupaya untuk menempatkan posisi dominan dalam diri kita. Ragu muncul karena perbedaan pendapat antara akal dan hati.

Cara yang terbaik adalah kita upayakan agar ketiga piranti dalam diri kita tersebut diberikan porsi yang seimbang. Yaitu, kapan kita menggunakan akal, kapan kita menggunakan hati dan kapan kita menggunakan fisik. Dari hal ini pun dapat dikemukakan bahwa bila akal atau fisik tidak kuasa lagi melakukan fungsinya, maka gunakan hati…

Wallahualam Bishowab

Standar
Bahasa, perilaku

MUSUH BESAR

Ratusan tahun yang lalu ketika Rasulullah SAW usai memimpin pertempuran dahsyat melawan kaum yang menolak kebenaran (kafir), ditengah sorak sorai kemenangan seluruh umat Islam pada saat itu, teriakan takbir gilang gemilang membahana diseantero jazirah Arab, belia naik ke atas batu kemudian meminta semua pejuang untuk tenang. Kemudian dalam kesenyapan yang merata beliau bersabda; “Wahai saudaraku, kita baru saja menyelesaikan perang yang begitu dahsyat, ratusan sudah sahid, luka-luka demi menegakan kalimatullah. Perlu kalian ketahui bahwa setelah perang ini akan ada perang yang lebih dahsyat lagi dihadapan kita.” Belum lagi Rasulullah menyelesaikan orasinya, sambutan membahana menyambut pernyataan beliau. “Perang apa lagi ya Rosul, mana yang lebih dahsyat lagi, kami tidak akan pernah mundur barang sejengkal pun!”, Allahu Akbar!, Allahhu Akbar!. Rasulullah begitu terharu melihat umatnya yang tetap tegar menegakan iman dalam hati mereka. Mati bukanlah kekalahan melainkan jalan cepat menuju tempat indah yang dijanjikan Allah Swt. Syahid!, Syahid! (awas jangan kebawa emosi dulu!). Kemudian, Rasulullah melanjutkan disambut dengan keheningan yang begitu penuh menanti apa yang akan muncul dari mulut suci sang Nabi. ” saudaraku, benar, musuh besar dan terbesar kita segera akan menghadang, dan ini paling sulit untuk ditaklukan.” Umat Islam, para sahabat menunggu Penjahat mana, atau bahkan kafir bangkotan mana yang masih memiliki nyali bertatapan wajah dengan para mujahid yang dikawal ribuan malaikat dan lindungan Allah Swt. “MUSUH TERBESAR KITA ADALAH HAWA NAFSU KITA SENDIRI…”. Suasana hening seketika, menangislah para sahabat, lunglai para pejuang mendengar hal ini…Ya Allah, berapa ribu pun musuh akan kami hadapi dengan gagah berani, kami sangat merelakan nyawa kami untuk Engkau, tapi kami belum tentu sanggup menaklukan diri kami ya Allah…Rasul pun menangis…khawatir …semua kemenangan, keimanan akan lebur hanya dengan terpelesetnya jiwa kita karena alotnya godaan jiwa sendiri…

APakah kita sudah mengalahkan jiwa dan raga kita untuk Allah Swt???

 

Renungkanlah…

 

grilledbread

Standar
Bahasa, perilaku

Kesimpulan

Awas, hati-hatilah ketika anda membuat kesimpulan. Membuat kesimpulan sepintas lalu seperti sebuah frase yang mudah untuk dipahami dan dilakukan padahal, sebelum seseorang mengambil kesimpulan dibelakangnya terdapat serangkaian proses panjang dan berliku yang harus dilakukan dengan serius dan sebenarnya guna mendapatkan hasil akhir yang benar, terukur dan dapat dibuktikan kebenarannya.

Ketika anda melihat seseorang dengan penampilan yang agak  berbeda dari umumnya, tentunya anda bisa terjebak dalam mengambil keputusan dengan sangat cepat. Memang, kita harus berlatih membuat kesimpulan dan mengambil keputusan dengan cepat, hingga etiap persoalan tidak bertumpuk dan dapat diapusakan dalam boxfile kepala kita dan setiap orang disekitar kita.

Berikut, adalah cerita fiktif yang penulis sadur dari cerita seseorang (penulis lupa namanya, semoga amal kebaikan yang membuat cerita ini dibalas oleh Tuhan YME). Ceritanya adalah…Pada suatu ketika, adalah seorang profesor yang sudah sangat tua atau katagori B (BANGKOTAN), disela-sela riset besarnya dia berjalan-jalan di sebuah kolam yang lumayan besar di sekitar lab yang dia miliki, sambil menghilangkan kepenatan. Ketika dia berjalan, dia melihat seekor katak yang sangat besar, hampir sebesar kepala bayi yang baru lahir sekitar 3 hari. Sang profesor berupaya menangkap katak tersebut, dan hasilnya…dengan perhitungannya yang luarbiasa, katak tersebut dapat ditangkap dengan mudah. Kemudian ia bawa ke lab.

Pada malam harinya, ketika semua suasana hening, sang profesor memasuki lab untuk melanjutkan berbagai uji coba. Tetapi, ketika ia melihat katak yang dia simpan dalam aquarium besar, timbulah keinginan untuk meneliti katak tersebut. Maka dikeluarkanlah katak tersebut dan diletakan di atas hamparan papan panjang berukuran 10 meter. Setelah ia membuat angka-angka ukuran disepanjang papan tersebut, ia menempatkan katak besar itu di titik start. Kemudian, ia berteriak skeras-kerasnya, LOMPAT!, katak itu spontas lompat, mungkin kaget. dan hasilnya ia catat. “…ternyata katak besar dengan kaki sempurna mampu melompat 10 m. Ia begitu bersemangat. Tapi ia berfikir, bagaiman kalau ia potong kakinya satu. dan ia lakukan. Kemudian ia meletakan katak besar itu dititik start, dan…”LOMPAT!”, katak dengan kaki tiga itu pun melompat. Hasil jelas menurun. Ia mencatat bahwa, “katak besar dengan  tiga kaki sanggup melompat sejauh 8 m. Diluar dugaan, ia memotong kaki katak beasr itu satu lagi, jadi kini tinggal 2 kaki. dan lakukan perintah seperti sebelumnya. Ternyata katak itu hanya mampu melompat sejauh 4 m. Penurunan yang sangat drastis. Semakin penasaran ia melanjutkan penelitian yang aneh itu. Bahkan ia memotong semua kaki katak besar itu. kemudian ia letakan di garis awal dan berteriak seperti semula. Namun, kini katak tanpa kaki itu tidak berkutik. Hanya matanya yang berkedip penuh harap campur dendam pada sanga profesor. Melihat katak tidak berkutik, sang profesor semakin keras berteriak.LOMPAT, LOMPAT KAMU, LOMPAAAT!. Katak itu pun tetap diam. Dengan kesal profesor itu mengambil bukunya dan menulis kesimplan terakhir. “TERNYATA KATAK BESAR BILA DIPOTONG KAKI KEEMPAT-EMPATNYA, IA MENJADI TULI”. Lalu ia pergi ke sofa dan duduk dengan lesu, diam dan tidur.

Dari anekdot di atas, sebenarnya tidak sedikit diantara kita yang melakukan proses berfikir malapraktek dalam menafsirkan sesuatu atau seseorang yang menurut ia benar tanpa diuji berulang-ulang dengan cara-cara yang benar, penuh pembuktian, serta bermanfaat dan tidak mengandung unsur merugikan orang lain.  Hati-hatilah dengan istilah ANALISIS, PERCOBAAN, UJI COBA, ATAU PRASANGKA !

Langkah yang menurut penulis baik dilakukan sebelum mengambil kesimpulan adalah:

1. Tentukan masalah yang akan diproses; saring, bandingkan, prioritaskan, tentukan jenis atau hal apa yang akan kita munculkan.

2. Lakukan pengamatan, percobaan dan uji coba secara berulang-ulang hingga mendapatkan pembuktian-pembuktian sehingga validitas kebenarannya diakui. Ingat diakui tidak harus diikuti.

3. Ambil kesimpulan berdasarkan proses nomor dua, dan beritakan dengan sebenarnya tanpa ada perubahan yang disebabkan tekanan atau pesanan dari pihak manapun.

4. lakukan evaluasi antara kesipulan dengan input data awal dan lakukan proses nomor dua lanjutan.

Selamat mencoba. Untuk Profesor tadi. DON’T TRY THIS AT ANYWHERE!

Standar
Bahasa

Disiplin Berbahasa

Beberapa malam lewat, penulis berkumpul dengan bebeapa teman untuk merayakan hari ulang tahun salah seorang teman yang kebetulan warga negara asing yang bekerja dan tinggal di Indonesia. Pada saat kami berbincang-bincang, salah satu teman (WNA) bercerita tentang iklan-iklan yang terpampang dipinggir jalan yang ia temui. Ia mengatakan bahwa ia sangat bingung ketika melihat plang dengan tulisan CAT OVEN. Ia kaget setengah mati dan bingung, “Apakah kalian makan kucing?”, “kejam sekali, kucing koq di oven…”. Hal ini karena teman saya itu membacanya /kaet oven/, yang mungkin dapat diartikan semacam Grilled Bread (roti panggang) atau steak dan sejenisnya.

Dua puluh empat hari lalu dari tanggal cerita ini dikeluarkan pun penulis sempat melihat plang di depan sebuah bengkel motor dengan tulisan DIJUAL BAN SEKEN. Dan, ratusan, mungkin ribuan plang atau tulisan dengan iklan sejenis. Dimana muaranya?…ga tauuu, kata anak-anak serempak ketika seorang guru bahasa Indonesia menanyakan pertanyaan serupa dikelas. Bahkan dua atau tiga orang siswa mengkritik guru Bahasa Indonesia mereka seraya mengatakan “Pak , Bapak juga tidak menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar?” . Pak guru dengan cecpat menjawab, “nggak tuh!” …lah itu apa, pak?”. Memang, kata nggak tuh, nggak ngerti dan lain-lain bukanlah Bahasa Indonesia melainkan Bahasa Jakarta (Bahasa Betawi).

Belum lagi yang mencampuradukan Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia agar kelihatan menarik (keren) di depan orang-orang yang mendengarnya, sehingga munculah bahasa-bahasa lain yang sudah tidak jelas lagi juntrungannya.  Misalnya, “wah, sorry yah, ike udah came late hari ini”. dan lain-lain.

Tapi saya sangat maklum, karena Bahasa Indonesia sendiri banyak menyerap bahasa-bahasa lain di muka bumi. untunglah masih bahasa planet bumi.

Standar