lain lubuk, perilaku, teanga kerja, wanita

Kisah Tak Berujung

TKI-TKW, KISAH TAK BERUJUNG

Oleh   : Ade Bachtiar  

  1. Fenomena Yang Kelam

 Belum kering genangan darah penderitaan di Indonesia dengan segudang pertikaian, bertambah basahnya oleh penderitaan yang dialami para tenaga kerja Indonesia di luar negeri sebagai akibat dari kesemerawutan pengelolaan dan komitmen hukum di negeri ini. Lebih dari 60 % tenaga kerja Indonesia yang berada di mancanegara mengalami perlakuan yang tidak baik dari para majikan mereka; pemukulan, penyiksaan, pelecehan seksual hingga pemerkosaan, penghinaan hingga berujung kepada kematian. Kematian yang ada umumnya melalui proses kondisi fisik yang menurun drastis karena seringnya penyiksaan dan  bunuh diri karena sudah tidak tahan lagi serta kehilangan harapan untuk selamat hingga mengambil keputusan untuk mengakhiri hidup.  Di penghujung Juni 2007, seorang TKW bernama Ceryati, asal Brebes, Jawa Tengah itu, nekat kabur dari apartemen majikannya yang berada di lantai 15. Dia turun meluncur dari Apartemen Tamarind Sentul, Kuala Lumpur, Malaysia melalui tali yang merupakan sambungan dari kain termasuk celana dalam dan BH, Minggu, 17 Juni 20071.

Hingga terlupakannya berita ini oleh setiap ingatan manusia yang menyimak sekian banyak tragedi luluh lantaknya nasib para buruh migran termasuk Ceryati, tidak ada satupun yang menunjukan penyelesaian produktif yang signifikan yang berorientasi pada sebuah jaminan untuk tidak terulangnya peristiwa-peristiwa ini, paling tidak ada harapan berkurangnya tingkat kejahatan di dunia perburuhan ini. Kelamnya kabut persoalan di dunia pekerja migran ini hingga kini masih belum tersingkap. 

  1. Salah Siapa?

 Inilah kesimpulan jawaban dari setiap peristiwa terkaparnya para pekerja migran, yakni dengan sistem tunjuk hidung, sembari  mencari-cari salah siapa?, dan kepada siapa mencari biaya penggantian biaya luka dan tewasnya para TKI itu, hingga lambat laun semua mata melupakan peristiwa itu dengan gumam klasik yah sudahlah… Perjalanan panjang yang membuahkan lahirnya  Tenaga Kerja Indonesia bermuara dari semakin meningkatnya keinginan dan kebutuhan manusia, serta semakin menyempitnya peluang yang tersedia di negeri sendiri hingga menimbulkan tingkat kemiskinan terus melanda seolah tidak akan pernah berhenti. Jauh sebelum adanya undang-undang nomor 39 tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri2, kegiatan pencarian pekerjaan kemanca negara sudah ada dan deras mengalir. Ini tercipta atas kehendak pihak-pihak yang terdiri dari para buruh, para majikan dan agen pekerja pada saat itu yang bergerak di luar pengawasan pemerintah. Walhasil, tindakan yang merendahkan martabat manusia  ikut berkembang. Dengan demikian, pemerintah mengeluarkan Undang-Undang ini dengan harapan hilangnya kegiatan pengrusakan martabat manusia oleh segelintir manusia yang peradabannya agak terlambat.  

Pasal demi pasal mengamanatkan semua hal yang sangat baik dalam rangka menertibkan semua proses pengelolaan tenaga kerja Indonesia di luar negeri. Seperti Pasal 3:

 Penempatan dan perlindungan calon TKI/TKI  bertujuan untuk: a.     memberdayakan dan mendayagunakan tenaga kerja secara optimal dan manusiawi;b.     menjamin dan melindungi  calon TKI/TKI sejak di dalam negeri, di negara tujuan, sampai kembali ke tempat asal di Indonesia; c.     meningkatkan kesejahteraan TKI dan keluarganya. Kemudian, pada Pasal 5 a.     Pemerintah bertugas mengatur, membina, melaksanakan, dan mengawasi penyelenggaraan penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri.b.     Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1),Pemerintah dapat melimpahkan sebagian wewenangnya dan/atau tugas perbantuan kepada pemerintah daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan.Kemudian, pada Pasal 8Setiap calon TKI/TKI mempunyai hak dan kesempatan yang sama untuk: a.     bekerja di luar negeri;b.     memperoleh informasi yang benar mengenai pasar kerja luar negeri dan prosedur penempatan TKI di luar negeri;c.     memperoleh pelayanan dan perlakuan yang sama dalam penempatan di luar negeri;d.     memperoleh kebebasan menganut agama dan keyakinannya serta kesempatan untuk menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan keyakinan yang dianutnya;e.     memperoleh upah sesuai dengan standar upah yang berlaku di negara tujuan;f.      memperoleh hak, kesempatan, dan perlakuan yang sama yang diperoleh tenaga kerja asing lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan di negara tujuan;g.     memperoleh jaminan perlindungan hukum sesuai dengan peraturan perundang-undangan atas tindakan yang dapat merendahkan harkat dan martabatnya serta pelanggaran atas hak-hak yang ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan selama penempatan di luar negeri;h.     memperoleh jaminan perlindungan keselamatan dan keamanan kepulangan TKI ke tempat asal; i.      memperoleh naskah perjanjian kerja yang asli. Kemudian Pasal 31            Kegiatan pra penempatan TKI di luar negeri meliputi:a.    pengurusan SIP;b.    perekrutan dan seleksi;c.    pendidikan dan pelatihan kerja;d.    pemeriksaan kesehatan dan psikologi;e.    pengurusan dokumen;f.     uji  kompetensi;g.    pembekalan akhir pemberangkatan (PAP); danh.    pemberangkatan. 

Pada Pasal 41 dan 42

 

(1)  Calon TKI wajib memiliki sertifikat kompetensi kerja sesuai denganpersyaratan jabatan. (2)Dalam hal TKI belum memiliki kompetensi kerja sebagaimana    dimaksud pada ayat (1),  pelaksana penempatan TKI swasta wajib melakukan pendidikan dan pelatihan sesuai dengan pekerjaan yang akan dilakukan. 

dan pasal 42

 (1) Calon TKI berhak mendapat pendidikan dan pelatihan kerja sesuai dengan pekerjaan yang akan dilakukan.  (2) Pendidikan dan pelatihan kerja bagi calon TKI sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dimaksudkan untuk: a. membekali, meningkatkan, dan mengembangkan kompetensikerja calon TKI;b.  memberi pengetahuan dan pemahaman tentang situasi, kondisi, adat istiadat, budaya, agama, dan risiko bekerja di luar negeri; c.  membekali kemampuan berkomunikasi dalam bahasa negara tujuan; dand.  memberi pengetahuan dan pemahaman tentang hak dan kewajiban calon TKI/TKI.           dan seterusnya, semuanya tertuang lengkap dalam Undang-Undang ini. Dari beberapa yang dikemukakan menunjukan betapa ironisnya ketika ada seorang pekerja migan yang disiksa majikan hanya karena tidak mengerti menggunakan microwave atau tidak mampu memahami intruksi majikan dengan menggunakan bahasa Inggris sederhana. Kemudian, betapa mengherankan bila ketika ada peristiwa menyedihkan menimpa para TKW, seolah pemerintah tidak mampu berbuat apa-apa. Tentunya dengan adanya undang-undang ini ketiga serangkai yang terdiri dari ekerja, majikan dan agen akan lebih lengkap dan terjamin dengan hadirnya pemerintah yang mengawal dengan berbekal Undang-Undang ini atau peraturan tambahan lainnya.           Jika tidak, siapa yang memulai bermain kucing-kucingan hingga  kucingnya tidak pernah ditemukan sedangkan korban terus bergelimpangan? 

  1. Dari Mana Kita Memulai?

Untuk bergerak lebih cepat dalam mencapai mutu pengelolaan tenaga kerja Indonesia di luar negeri dengan benar dan aman, tentunya tidak ada cara lain selain harus mulai bergerak sekarang, dari setiap elemen yang berperan serta segera menyadari kebiadaban yang selama ini langsung atau tidak langsung dilakukan dan pegang komitmen yang berlandaskan rasa persaudaraan dan kemanusiaan serta Undang-Undang , terutama yang mengatur tata cara pelaksanaan ini.

 Adapun elemen yang secara langsung terlibat adalah Pemerintah, agen, pekerja dan majikan di kedua belah pihak yang akan melakukan kerjasama bisnis yang didasari kesepaatan kerjasama dua atau lebih negara. Pemerintah bersama masyarakat dalam hal ini sebagai pelindung dan pengawas harus lebih berbenah dan terus meningkatkan kemampuan dalam pengawasan, pengarahan serta perlindungan/jaminan pada terciptanya proses kegiatan ini. Pemerintah selayaknya jangan memulai mengajarkan hal-hal yang melanggar Undang-Undang, berantas semua kuman/oknum yang rajin berlatih kebiadaban hingga menjadi mahir sehingga membuka peluang bagi elemen lainnya untuk berbuat yang sama hingga saling menzalimi. Bekukan semua agen yang tidak memenuhi syarat dalam pelaksanaan pekerjaan ini. Begitu pun bagi agen agar memulai dan terus membenahi diri, pahami dan laksanakan undang-undang. Lakukan semua syarat yang harus dipenuhi. Perbaiki manajemen perusahaan anda, rekrut orang-orang handal yang sanggup melatih dengan benar dan cepat. Persiapkan calon TKI sebaik mungkin dan bila tidak layak jangan pernah dikirim, sarankan kepada mereka untuk belajar lagi atau mencari pekerjaan di negeri sendiri. Dan, bagi para calon pekerja migran, jangan salah tafsir mengenai berani matinya para pahlawan yang mendahului kita. Mereka mati dengan semua hal yang sudah maksimal bukan nekat  tanpa alasan dan tanpa persiapan. Persiapkan bekal yang cukup baik fisik, mental, spiritual, kemampuan.Kata Orang Jakarta bilang, “Emang lo siape?, lo kire negara laen butuh elo?’ 

  1. Penutup

Uang memang luar biasa, maka waspadalah dalam mendapatkannya. Jika anda mendapatkannya dengan genangan darah, konsekwensinya anda akan menjadi bagian basahnya hingga anda repot mengeringkannya.


1 Dian Auliya, Syariah Publication

2 Depnakertrans

Iklan
Standar

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s