“Ketika Akal Tak Kuasa Lagi, Gunakan Hatimu…”

26 08 2009

Akal yang merupakan anugerah terindah, tertinggi dan terhebat bagi manusia, pembeda antara kita dengan hewan, sebuah alat yang difungsikan untuk berfikir; mengamati, mengolah data, menyimpan data dan lain-lain tak terhingga manfaatnya, benar-benar harus kita syukuri kepemilikan ini.

Di dalam diri kita terdapat tiga serangkai yang saling bekerjasama, yaitu akal, hati dan fisik.  Akal sebagai pusat logika sifatnya pasti dan kadang kaku tapi obyektif. Hati sebagai pusat nurani, rasa, terkadang ada keraguan , labil dan subyektif. sedangkan fisik merupakan wadah, alat untuk mewujudkan semua hasil kerjasama akal dan hati. fisik merupakan bagian terdepan yang menjadi representasi dari diri kita.

Ketiga piranti dalam diri kita ini sangat dianjurkan untuk berjalan satu kata untuk tujuan keselarasan diri. Namun demikian, persoalannya adalah, kadang ketiganya tidak seimbang. Penyebabnya banyak, bisa karena kurangnya pembekalan akal, atau juga kurangnya pembekalan hati, mungkin juga kurangnya pembekalan fisik. Apabila suatu saat terjadi kerusakan karena kelalaian salah satudari ketiganya maka akan terjadi ketidakseimbangan diri. Kekuatan utama kendali biasanya akal dan hati. Keduanya berupaya untuk menempatkan posisi dominan dalam diri kita. Ragu muncul karena perbedaan pendapat antara akal dan hati.

Cara yang terbaik adalah kita upayakan agar ketiga piranti dalam diri kita tersebut diberikan porsi yang seimbang. Yaitu, kapan kita menggunakan akal, kapan kita menggunakan hati dan kapan kita menggunakan fisik. Dari hal ini pun dapat dikemukakan bahwa bila akal atau fisik tidak kuasa lagi melakukan fungsinya, maka gunakan hati…

Wallahualam Bishowab





BUDAYA KEKERASAN

4 02 2009

Belum habis pengrusakan dimana-mana, pembunuhan, pemerkosaan dan lain sebagainya, muncul pula kekerasan yang bergerak serentak dari kalangan pelajar (kaum berilmu dan bermoral) melakukan banyak rupa tindakan kekerasan yang mungkin lebih hebat pengemasannya… gang motor, tawuran pelajar, pengeroyokan, bullying dan terus, terus, terus, terjadi setiap saat. Semuanya belum dapat diselesaikan. Bagaiman dengan gembar gembor budaya nusantara yang ramah, sopan, halus, pada apa?, pada siapa?… ternyata budaya itu tidak ada. hanya tertulis di buku-buku pelajaran saja atau mungkin cerita kakek saya aja sebelum tidur. Itu pun dulu, waktu kakek saya masih hidup. Nah, lebih seru lagi tidak sedikit para calon pengelola negara bahkan pejabat negara yang masih senang menikmati “Dunia kekerasan” dalam menyampaikan keinginannya (maaf ya bukan aspirasi). sementara di sisi lain sibuk mengomentari kekerasan para siswa. Bahkan tulisan saya kali ini pun sudah berbau kekerasan, mungkin…lalu, apa arti semua ini, apakah pertanda perembangan negeri atau pertanda hancurnya negeri?





Mengapa Kita Takut?

22 07 2008

TAKUT adalah salah satu bagian dari emosi yang muncul berbentuk  rasa, hasil sebuah sinergi  antara akal dan hati dalam diri (manusia). Mungkin anda memiliki definisi lain tentang TAKUT. Tidak jadi masalah adanya perbedaan diantara kita.  Yang terpenting tidak adanya dusta diantara kita bahwa kita pasti pernah merasakan takut.

TAKUT pun memiliki keanekaragaman warna, bentuk dan rasa tersendiri tergantung pada siapa rasa takut itu hinggap atau berada. TAKUT muncul tidak dengan sendirinya melainkan ada sebab dan banyak software yang membentuk serta menguatkan bahkan melemahkan. salah seorang teman saya mengatakan bahwa penyebab munculnya rasa takut dikarenakan dua hal, yakni TIDAK TAHU dan yang kedua karena KESALAHAN. Mungkin ada benarnya. tetapi, tidak sedikit orang yang berani karena ia tidak tahu apa-apa. Misalnya, ada seseorang yang merasa takut melewati sebuah pohon besar dikegelapan malam karena mungkin ia pernah mendengar cerita yang sangat menyeramkan tentang pohon itu. Namun, ada juga seseorang yang tidak merasa takut melewati pohon besar tersebut kapanpun karena ia belum mendengar berita apapun mengenai misteri pohon tersebut. Dari contoh ini, jelas bahwa ketakutan seseorang dipengaruhi oleh sesuatu; yakni informasi yang membuat ia takut dan ketidaktahuan atau lebih spesifiknya TIDAK MENGERTI.  

Bentuk rasa takut yang dijelaskan di atas berikut contohnya pasti dimiliki oleh semua orang. Dan, itu semua dapat dengan mudah direkayasa dengan bentuk stimulasi-stimulasi terhadap perubahan yang silih berganti antara takut dan tidak takut.

Kemudian, bagaimana kita dapat menghilangkan rasa takut tersebut?, jawabannya adalah REKAYASA seperti apa?. Tentunya bukan rekayasa dalam bentuk memporak- porandakan alam pikiran kita, melainkan bagaimana kita dapat melakukan langkah sinergi dan disadari dengan langkah-langkah tertentu seperti halnya ketika kita melakukan proses berfikir. Artinya bahwa  langkah yang paling tepat adalah berfikir sebagai langkah menuju pengetahuan dan pemahaman terhadap segal hal , yang akhirnya kita dapat melakukan tindakan, ya TINDAKAN ( baca: keberanian).

Suatu hari, ketika kakek saya masih hidup, saya dipanggil oleh beliau, yang ternyata hanya ingin menyampaikan sesuatu soal TAKUT. Pada saat itu saya tidak begitu antusias dengan pendapat yang beliau kemukakan. Beliuap mengatakan; “Lamun sia ngarasa sieun ngalewatan hiji tangkal kai, cenah ceuk batur loba jurigna, atawa memang sia aya anu nyingsieunan boh ku jurig boh kunaon, datangan eta tangkal kai, terus diuk, pikirkeun kunaon sia ngarasa siun, ulah poho sumerah kanu kawasa sampe rasa kasieun leungit”. (Artinya; Jika kamu merasa takut ketika melewati pohon besar, yang mungkin kata orang banyak hantunya atau memang kamu pernah ada yang menakuti baik oleh setan atau apapun, datangi pohon itu, terus duduk di bawahnya dan berfikirlah kenapa kamu takut dan jangan lupa pasrah pada Yang Maha Kuasa hingga rasa takut itu hilang). Kini saya semakin memahami bahwa rasa takut itu bisa kita ciptakan (baik secara sadar aupun tidak) dan bisa kita hilangkan. Faktor terkuat dalam penentuan hilangnya rasa takut adalah BERFIKIR DAN PASRAH… adapun langkah-langkahnya adalah, Kenali betul segala hal yang membuatmu takut, munculkan self talking ; berfikir , mengapa kita begitu mereasa takut, setelah mendapatkan informasi lengkap dan upaya self-discussion, secara khusu lakukan tindakan melepas segala beban di hati ; yakni sebuah findakan rela atau pasrah terhadap segala hali akan menimpa kita, bahkan mugnkin dapat mengambil hidup kita.

 

bersambung…….

 

 

Selamat merenung kawan-kawan





PERINGATAN

21 05 2008

Tanggal 20 Mei 2008 malam, dari selepas maghrib hingga menjelang malam, seluruh stasiun TV menayangkan acara yang begitu semarak, meriah dalam rangka memperingati 100 tahun Hari Kebangkitan Nasional. Seluruh lapisan masyarakat, yang terdiri dari ribuan seniman, militer hingga para pendekar dari seluruh negeri meramaikan acara tersebut dengan menampilkan berbagai jenis keterampilan dan kemampuan fisik dihadapan kepala negara.

HEBAAAT! HEBAAAT!. semua orang yang melihat pasti mengatakan hal yang sama. TETAPI, disela-sela asyiknya menonton , entah kenapa tiba-tiba isi kepala teringat kepada BBM yang akan segera naik, harga-harga barang melambung tinggi, kemudian jerit negeri yang konon sedang merana kekurangan dana hidup dan sudah tidak jelas lagi angka HUTANG negara yang konon juga tidak akan dapat dilunasi hingga tujuh  atau mungkin tujuh puluh turunan. BISA JADI!. Tapi apakah ini benar?. Buktinya negara kita masih mampu memperingati hari Kebangkitan Indonesia dengan sangat megah. Berapa dana yang sudah dikeluarkan?, berapa energi listrik yang sudah digunakan? ada hubungannya tidak dengan penggunaan BBM?

APA ARTI SEMUA INI?. Saya adalah bagian dari rakyat kecil yang mungkin tergolong jelata, tidak kuat melihat tayangan itu. tidak mampu lagi melakukan apresiasi seni. SUDAH TERLALU LAMA MEMBATASI JATAH MAKAN!. Untuk apa semua itu dipertontonkan lagi. Apakah dengan mematahkan besi atau menghancurkan beton kita bisa mengurangi hutang negara kita?, apakah dengan nyanyian dan tarian rame-rame bisa menghilangkan lapar tadi pagi. SAYA TIDAK YAKIN!

Semoga saja tulisan yang sangat singkat ini dapat menggugah isi kepala tuan-tuan. Kalo memang kita masih bisa berubah, berikan buktinya pada rakyat. Kalo memang sudah tidak mungkin. kita bubar saja sebagai negara, atau mungkin MERGER dengan negara lain yang mampu memberikan bantuan dengan sebenarnya. APA KITA AKAN MENJADI PENGEMIS RAME-RAME? APA KATA DUNIAAAAA? , demikian kata Naga Bonar.

Walaupun demikian, kepada saudaraku yang masih punya nurani, jangan pernah menyerah. Jika memang negar kita sedang dalam genggaman atau pengaruh atau mungkin kendali manusia atau mahluk yang akan merusak dan sedang merusak. Tetap berjuang dalam kebenaran. karena kebenaran akan menjadi energi hidup. SEKALI BERARTI SETELAH ITU MATI (khairil Anwar). Sudikah anda hidup, dan makan enak dalam gelimang dan gelimpang bangkai saudaramu! NAJIS!

 

 

SALAM





Melihat

7 05 2008

Bila kita berkonsentrasi sejenak dengan kata MELIHAT. Waah… alangkah banyak dan besarnya kapasitas kita dalam melihat. Melihat apa saja, dimana saja, kapan saja serta efek atau apa saja yang dihasilkan dengan kegiatan melihat.

Di dalam mata kita terdapat lensa yang mampu berakomodasi mengecil dan membesar hingga menimbulkan image besar atau pun kecil sesuai dengan respon otak kepada benda yang akan dilihat. Ketika kita melihat gunung tinggi menjulang, mata kita secara otomatis menentukan fokus maksimum hingga seluruh jiwa dan raga mampu menikmati pemandangan keseluruhan gunung itu. Kemudian pada saat kita mengamati benda kecil seperti kutu rambut atau bibit bunga di penyemaian, secara otomatis pula mata kita menentukan fokus dengan dengan cepat dan tepat. Pada saat ini pula otak melakukan poses penyimpanan kedalam memori dengan cepat hingga disimpan dalam folder-folder tertentu dalam otak.

Yang menjadi luar biasa adalah respon keseluruhan otak dan hati terhadap apa yang dilihat menimbulkan efek yang luarbiasa dahsyatnya pada pemunculan perilaku seseorang dimasa mendatang/pada waktu berikutnya sebagai bentuk reaksi dari respon data yang ada. Seseorang akan menjadi begitu sedih ketika melihat sang ayah membujur kaku, atau tebahaknya seseorang ketika melihat tayangan yang lucu. Kesemuanya ini pun akan berakibat besar dan dahsyat terhadap perubahan perilaku tergantung kepada seberapa besar reaksi dari seseorang dalam mengakomodasi hasil penglihatannya itu, Misalnya, kesedihan seseorang akan semakin menjadi manakala rekaman yang ada di otaknya diperbesar dan diperbesar (zoom) hingga tak terbatas (ini perbedaan manusia degan kamera). Semakin besar gambaran dalam otaknya maka semakin besar pula  efek yang ditimbulkannya.

Begitupula sebaliknya. Maka, dari hal di atas, kita bisa membuat satu langkah yang cerdas bagaimana kita mengelola otak dan hati agar mampu memproses pengubahan gambar/hasil penglihatan (dalam arti luas : pengamatan, meresapi, penelitian, dll) dengan lebih bijak dengan tujuan agar perubahan perilaku yang akan ditimbulkan dari akibat ini dapat tetap atau mengarah pada kondisi positif , dimana jiwa diberi kesempatan penuh untuk selalu merasa nikmat, senang, bahagia, sedih, serius secara proporsional dengan mengedepankan tujuan jiwa bahagia.

 

Silahkan DILIHAT…

 

SALAM





MUSUH BESAR

2 05 2008

Ratusan tahun yang lalu ketika Rasulullah SAW usai memimpin pertempuran dahsyat melawan kaum yang menolak kebenaran (kafir), ditengah sorak sorai kemenangan seluruh umat Islam pada saat itu, teriakan takbir gilang gemilang membahana diseantero jazirah Arab, belia naik ke atas batu kemudian meminta semua pejuang untuk tenang. Kemudian dalam kesenyapan yang merata beliau bersabda; “Wahai saudaraku, kita baru saja menyelesaikan perang yang begitu dahsyat, ratusan sudah sahid, luka-luka demi menegakan kalimatullah. Perlu kalian ketahui bahwa setelah perang ini akan ada perang yang lebih dahsyat lagi dihadapan kita.” Belum lagi Rasulullah menyelesaikan orasinya, sambutan membahana menyambut pernyataan beliau. “Perang apa lagi ya Rosul, mana yang lebih dahsyat lagi, kami tidak akan pernah mundur barang sejengkal pun!”, Allahu Akbar!, Allahhu Akbar!. Rasulullah begitu terharu melihat umatnya yang tetap tegar menegakan iman dalam hati mereka. Mati bukanlah kekalahan melainkan jalan cepat menuju tempat indah yang dijanjikan Allah Swt. Syahid!, Syahid! (awas jangan kebawa emosi dulu!). Kemudian, Rasulullah melanjutkan disambut dengan keheningan yang begitu penuh menanti apa yang akan muncul dari mulut suci sang Nabi. ” saudaraku, benar, musuh besar dan terbesar kita segera akan menghadang, dan ini paling sulit untuk ditaklukan.” Umat Islam, para sahabat menunggu Penjahat mana, atau bahkan kafir bangkotan mana yang masih memiliki nyali bertatapan wajah dengan para mujahid yang dikawal ribuan malaikat dan lindungan Allah Swt. “MUSUH TERBESAR KITA ADALAH HAWA NAFSU KITA SENDIRI…”. Suasana hening seketika, menangislah para sahabat, lunglai para pejuang mendengar hal ini…Ya Allah, berapa ribu pun musuh akan kami hadapi dengan gagah berani, kami sangat merelakan nyawa kami untuk Engkau, tapi kami belum tentu sanggup menaklukan diri kami ya Allah…Rasul pun menangis…khawatir …semua kemenangan, keimanan akan lebur hanya dengan terpelesetnya jiwa kita karena alotnya godaan jiwa sendiri…

APakah kita sudah mengalahkan jiwa dan raga kita untuk Allah Swt???

 

Renungkanlah…

 

grilledbread





Kesimpulan

19 02 2008

Awas, hati-hatilah ketika anda membuat kesimpulan. Membuat kesimpulan sepintas lalu seperti sebuah frase yang mudah untuk dipahami dan dilakukan padahal, sebelum seseorang mengambil kesimpulan dibelakangnya terdapat serangkaian proses panjang dan berliku yang harus dilakukan dengan serius dan sebenarnya guna mendapatkan hasil akhir yang benar, terukur dan dapat dibuktikan kebenarannya.

Ketika anda melihat seseorang dengan penampilan yang agak  berbeda dari umumnya, tentunya anda bisa terjebak dalam mengambil keputusan dengan sangat cepat. Memang, kita harus berlatih membuat kesimpulan dan mengambil keputusan dengan cepat, hingga etiap persoalan tidak bertumpuk dan dapat diapusakan dalam boxfile kepala kita dan setiap orang disekitar kita.

Berikut, adalah cerita fiktif yang penulis sadur dari cerita seseorang (penulis lupa namanya, semoga amal kebaikan yang membuat cerita ini dibalas oleh Tuhan YME). Ceritanya adalah…Pada suatu ketika, adalah seorang profesor yang sudah sangat tua atau katagori B (BANGKOTAN), disela-sela riset besarnya dia berjalan-jalan di sebuah kolam yang lumayan besar di sekitar lab yang dia miliki, sambil menghilangkan kepenatan. Ketika dia berjalan, dia melihat seekor katak yang sangat besar, hampir sebesar kepala bayi yang baru lahir sekitar 3 hari. Sang profesor berupaya menangkap katak tersebut, dan hasilnya…dengan perhitungannya yang luarbiasa, katak tersebut dapat ditangkap dengan mudah. Kemudian ia bawa ke lab.

Pada malam harinya, ketika semua suasana hening, sang profesor memasuki lab untuk melanjutkan berbagai uji coba. Tetapi, ketika ia melihat katak yang dia simpan dalam aquarium besar, timbulah keinginan untuk meneliti katak tersebut. Maka dikeluarkanlah katak tersebut dan diletakan di atas hamparan papan panjang berukuran 10 meter. Setelah ia membuat angka-angka ukuran disepanjang papan tersebut, ia menempatkan katak besar itu di titik start. Kemudian, ia berteriak skeras-kerasnya, LOMPAT!, katak itu spontas lompat, mungkin kaget. dan hasilnya ia catat. “…ternyata katak besar dengan kaki sempurna mampu melompat 10 m. Ia begitu bersemangat. Tapi ia berfikir, bagaiman kalau ia potong kakinya satu. dan ia lakukan. Kemudian ia meletakan katak besar itu dititik start, dan…”LOMPAT!”, katak dengan kaki tiga itu pun melompat. Hasil jelas menurun. Ia mencatat bahwa, “katak besar dengan  tiga kaki sanggup melompat sejauh 8 m. Diluar dugaan, ia memotong kaki katak beasr itu satu lagi, jadi kini tinggal 2 kaki. dan lakukan perintah seperti sebelumnya. Ternyata katak itu hanya mampu melompat sejauh 4 m. Penurunan yang sangat drastis. Semakin penasaran ia melanjutkan penelitian yang aneh itu. Bahkan ia memotong semua kaki katak besar itu. kemudian ia letakan di garis awal dan berteriak seperti semula. Namun, kini katak tanpa kaki itu tidak berkutik. Hanya matanya yang berkedip penuh harap campur dendam pada sanga profesor. Melihat katak tidak berkutik, sang profesor semakin keras berteriak.LOMPAT, LOMPAT KAMU, LOMPAAAT!. Katak itu pun tetap diam. Dengan kesal profesor itu mengambil bukunya dan menulis kesimplan terakhir. “TERNYATA KATAK BESAR BILA DIPOTONG KAKI KEEMPAT-EMPATNYA, IA MENJADI TULI”. Lalu ia pergi ke sofa dan duduk dengan lesu, diam dan tidur.

Dari anekdot di atas, sebenarnya tidak sedikit diantara kita yang melakukan proses berfikir malapraktek dalam menafsirkan sesuatu atau seseorang yang menurut ia benar tanpa diuji berulang-ulang dengan cara-cara yang benar, penuh pembuktian, serta bermanfaat dan tidak mengandung unsur merugikan orang lain.  Hati-hatilah dengan istilah ANALISIS, PERCOBAAN, UJI COBA, ATAU PRASANGKA !

Langkah yang menurut penulis baik dilakukan sebelum mengambil kesimpulan adalah:

1. Tentukan masalah yang akan diproses; saring, bandingkan, prioritaskan, tentukan jenis atau hal apa yang akan kita munculkan.

2. Lakukan pengamatan, percobaan dan uji coba secara berulang-ulang hingga mendapatkan pembuktian-pembuktian sehingga validitas kebenarannya diakui. Ingat diakui tidak harus diikuti.

3. Ambil kesimpulan berdasarkan proses nomor dua, dan beritakan dengan sebenarnya tanpa ada perubahan yang disebabkan tekanan atau pesanan dari pihak manapun.

4. lakukan evaluasi antara kesipulan dengan input data awal dan lakukan proses nomor dua lanjutan.

Selamat mencoba. Untuk Profesor tadi. DON’T TRY THIS AT ANYWHERE!








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.